Sabtu, 01 November 2008

pahlawan yoyo



Oleh : Irma Tambunan
Kedatangannya ke Sudan di Benua Afrika menjadikan Oke Rosgana bak pahlawan muda. “Yoyo man! Indonesia!” demikian anak-anak kecil setempat memanggil-manggil saat ia melintasi sebuah pasar di kota Medanny. Orang yang juga mengenalinya menyebut: Rosgana, the yoyo hero from Indonesia.Oke lalu disambut puluhan jurnalis, dari enam media elektronik dan 15 surat kabar, melalui sebuah acara jumpa pers. Salah satu televisi swasta di Khartoum bahkan secara khusus menghadirkannya sebagai bintang tamu untuk acara Step By Step.Program semi talk show yang disajikan untuk kalangan anak muda ini mengupas perjalanan seseorang menjadi bintang. Oke disorot atas keberhasilannya sebagai bintang yoyo yang mendunia meski di negeri sendiri belum banyak dikenal.
Kedatangannya ke negeri itu, Juni 2007, bukanlah kebetulan. Oke dilirik sebuah perusahaan susu terkemuka setempat untuk mengakrabkan anak-anak terhadap permainan yoyo ke sejumlah kota secara khusus selama lima pekan. Permainan yang mungkin telah diakrabi oleh mayoritas anak-anak itu ternyata mendunia dan cukup bergengsi. Ada anggapan, seorang remaja tidak lagi akan diremehkan apabila telah memiliki kemampuan memainkan yoyo. Semakin tinggi teknik yang dikuasai, orang akan semakin terkagum-kagum kepadanya.
Selama pertunjukan keliling, Oke bermain yoyo di atas truk besar yang diubah menjadi panggung. Setiap hari dilaksanakan dua kali pertunjukan pada sekolah-sekolah internasional di Khartoum. Pertunjukan yoyo juga digelar di kawasan perkampungan, tengah lapangan, taman-taman bermain, pasar, hingga mal. Yoyo diperkenalkan kepada siapa saja tanpa mengenal kelas ekonomi atau warna kulit.
“Banyak orang yang melihat dan antusiasme masyarakat sangat besar terhadap pertunjukan yoyo, bahkan tak hanya anak-anak. Orang tua juga tertarik,” ujarnya.
Hari terakhir di Sudan, Oke dijemput lebih pagi dari biasanya oleh pihak pabrik. Ia sebenarnya mengira bahwa hari itu akan lebih santai karena tidak ada pertunjukan. Ternyata tidak. Serombongan motor polisi, 12 truk, dan puluhan mobil lain mengajaknya berkonvoi sebagai salam perpisahan.
“Aku sangat terharu dengan penghargaan yang mereka berikan,” tuturnya.
Permainan anak kecil
Bagaimana rasa haru itu tidak muncul. Di negerinya sendiri, yoyo masih lebih dikenal sebagai permainan anak kecil di kampung-kampung. Sekarang ini tidak banyak anak yang bisa memainkannya. Yoyo pun sudah jarang beredar di toko-toko mainan.
Oke sendiri baru tertarik kembali pada yoyo sekitar tahun 2000. Saat itu, juara kompetisi yoyo sedunia, Yohanes van Elzen dari Amerika Serikat (AS), datang ke Indonesia untuk mempromosikan yoyo tipe high end.
Teknik bermainnya jauh dari bayangan Oke semasa kecil. “Yang aku tahu, yoyo hanya mainan dari kayu yang dilepas ke bawah dengan tali, lalu ditarik kembali sampai ke genggaman tangan. Tapi, permainan yoyo yang ini ternyata dahsyat,” tuturnya.
Misalnya saja, ada teknik string tricks, memainkan yoyo saat berputar di salah satu ujung tali. Ada lagi, double looping, trik memainkan dua yoyo sekaligus pada kedua tangan. Ini tentu rumit karena otak kiri maupun kanan dimanfaatkan betul. Kalau teknik off string, tali tidak terikat. Yoyo dimainkan di tengah-tengah tali yang dikendalikan oleh kedua tangan.
Van Elzen telah kembali ke negerinya, namun ketertarikan Oke justru semakin tumbuh. Ia pun menjelajahi dunia internet, mencari tahu seluk-beluk permainan ini. Dari situlah bapak satu anak ini baru mengetahui bahwa yoyo adalah mainan tertua kedua di dunia, tentunya setelah boneka. Di Yunani, yoyo dijadikan indikator kedewasaan seseorang. Ketika mampu memainkannya dengan mahir, seorang remaja dapat dinyatakan mulai dewasa dan cerdas.
Dari internet juga Oke mengetahui ada banyak orang yang bergelut dengan yoyo secara profesional. Mereka membentuk milis komunitas pencinta yoyo. Mereka menggelar kompetisi hingga bertaraf dunia. Sejumlah pabrik khusus dibangun untuk memproduksi yoyo-yoyo keluaran terbaru dengan bentuk dan desain beragam.
Saking terobsesinya, Oke membeli tiga yoyo sekaligus seharga Rp 1 juta melalui internet. Bahannya bukan dari kayu, tapi karet padat. “Dulu kita tahu harga yoyo paling-paling Rp 500. Tapi, karena begitu tertarik untuk mempelajarinya lagi, aku bela-belain beli yoyo yang ini. Saat itu aku menganggap, ini yoyo termahalku,” ujarnya sambil menunjukkan koleksi yoyonya yang kini berjumlah 150-an buah.
Mungkin karena sadar harganya mahal, Oke bertekad serius bergelut dengan mainan ini. Dari situlah, ia kemudian menguasai sekitar 30 trik yoyo berikut turunan-turunannya. Ia juga memadukan permainan yoyo dengan gasing.
Desainer yoyo
Ketertarikan Oke tidak hanya bermain, tetapi juga mendesain yoyo. Setelah memenangi sebuah kontes desain yoyo yang diadakan sebuah pabrik di AS, hasil karyanya mulai beredar. Berikutnya, tawaran membikin desain yoyo mulai berdatangan. Pabrik yoyo Hispin dan Radiyoactive di Afrika Selatan, serta YoyoGuy dan Skill Toys di AS, menjadi pelanggan desain buatannya. Tak puas sampai di situ, ia memproduksi sendiri yoyo dengan merek “RozzoR”.
Pakar yoyo dunia mulai meliriknya, lalu mengundang Oke menjadi juri dalam Asia Pacific Yoyo Contest 2006 di Genting Highland, Malaysia. Lalu, sekembalinya ke Tanah Air, staf Dinas Pariwisata Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini mencoba mempromosikan yoyo ke sekolah. Di SMAN I Subang, permainan yoyo berhasil menjadi ekstrakurikuler sejak satu tahun terakhir dan Oke menjadi gurunya. Ia juga membentuk komunitas yoyo yang kini beranggotakan sekitar 140 orang di sekitar Subang, Bandung, dan Jakarta.
Yoyo tentunya tidak sekadar permainan. Oke meyakini ini salah satu alat pengolahan otak kanan dan kiri manusia. Ia sendiri merasakan dan memerhatikan, sejak menekuninya, pola berpikir menjadi lebih positif, emosi lebih terkendali, dan jadi lebih tekun. Ia pun menyemangati anak-anak didiknya dalam ekstrakurikuler bahwa permainan ini mendukung aktivitas belajar mereka.
BiodataNama: Oke RosganaLahir: Bandung, 20 Oktober 1975Pendidikan: S-1 Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, tamat 2002Pekerjaan: Staf Dinas Pariwisata Kabupaten SubangIstri: Milda Halida (30)Anak: Hasya Azka Syahida (tujuh bulan)Membentuk komunitas pencinta yoyo, sekaligus membangun milis yoyoindonesia@yahoogroups.comMemenangi kontes “30 Menit Menjadi Bintang” yang diadakan salah satu televisi swastaMenjadi peserta Asia Pacific Yoyo Contest 2005Menjadi juri Asia Pacific Yoyo Contest 2006 di MalaysiaMengajar anak-anak bermain yoyo selama lima bulan di SudanDesain-desainnya telah dipakai empat pabrik yoyo yang dipasarkan ke seluruh dunia
Sumber: Kompas, Senin 22 Oktober 2007

Kamis pagi, 21 Agustus 2008, sebuah pesan pendek masuk ke no handphone saya. Dari Oke SR95 Yoyo, isinya : ‘Salam, apa kabar? Wah saya pengen ngisi acara sahur dan buka selama ramadhan ini. Mungkin gak ya. Kalo ada job kabari ya. Makasih. -oke rosgana

Oke adalah kawan satu kampus yang telah lama saya kenal. Mungkin sejak awal tahun 1996, saat dia mulai sering bermain yoyo di lapangan rumput liga film mahasiswa -lfm- itb. Lapangan rumput yang sering saya lewati saat berkuliah dahulu. Bagi saya, oke adalah contoh konsistensi menjadikan sebuah hobi menjadi sebuah mata pencaharian yang justru lebih banyak menghasilkan dibandingkan status dia sebagai calon pegawai negeri sipil di Pemerintah Daerah Kabupaten Subang.

Tidak ada komentar: